Kemunculan Islam liberal masih tanda-tanya bagi kita semua.
Apa makna di balik ini semua? Benarkah semua tuduhan tentang Islam liberal
bahwa ia berasal dari Barat dan sebagainya? Lalu bagaimana sikap kita, umat
Islam, terhadap Islam liberal? Tentu tidak mudah menjawabnya dalam tulisan yang
singkat ini. Namun saya mencoba sedikit mengelaborasi bagaimana kemunculan
Islam liberal dalam ranah intelektual Islam di Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa
tentang haramnya pemikiran sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalism)
namun ini tidak menyurutkan gerakan Islam liberal di Indonesia itu. Apa
sesungguhnya Islam liberal itu?
Liberalisme memang gerakan yang berusaha mengembalikan
kebebasan manusia sebagai hakikat dari penciptaannya di muka bumi.Selama ini
Islam yang hidup di masyarakat cenderung mengekang potensi kreatif kemanusiaan
dengan alasan dogma-dogma agama. Manusia harus tunduk kepada takdir tanpa harus
memunculkan potensi kreativitasnya. Dan hal ini disebabkan oleh penafsiran yang
tidak sesuai lagi pada zaman kekinian. Dalam Islam, fikih dianggap dogma yang
cenderung tidak menghargai hakikat kemanusiaan. Perempuan, misalnya dalam obyek
fikih hanya dijadikan sebagai makhluk kedua yang sedikit memiliki hak dibanding
lelaki.
Padahal Islam, menurut Nurcholish Madjid, berusaha
menjadikan manusia kembali kepada fitrah asalnya. Pada hakekatnya manusia
mempunyai kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Manusia menjadikan agama
sebagai jalan menuju Tuhan bukan malah menjadikan agama sebagai pengekang
kebebasan manusia.
Realitas keduniawian menuntut manusia untuk berperan aktif
dalam memakmurkan bumi. Ajaran agama pun menuntut demikian. Sayangnya, sekali
lagi, otoritas keagamaan bersikap konservatif. Agama direduksi menjadi melulu urusan
akhirat semata. Islam pada masa kemunculannya menjadi semacam kekuatan pembebas
(liberating forces) terhadap berbagai macam “tuhan-tuhan” palsu yang
membelenggu nilai-nilai kemanusiaan. Islam menjadi kekuatan pendobrak atas
nilai-nilai kepaganan yang justru menindas kemanusiaan. Sistem sosial dimana
Islam muncul memarjinalkan peranan buruh, budak, wanita, dan kelas bawah.
Kelas-kelas berkuasa menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang mengendalikan manusia
yang lain.
Islam datang untuk membebaskan manusia dari “tuhan-tuhan”
kecil itu menuju Tuhan yang sejati. Tuhan yang lebih patut dicintai dan
dihormati daripada ditakuti. Tuhan adalah Realitas absolut yang menguasai alam
semesta dan ia adalah tunggal. Dia tak terbagi dan tidak memiliki keturunan dan
ia jauh dari sifat kemanusiaan dan kehewanan yang rendah. Ia bahkan ilahiah.
Sifatnya tak sama dengan sifat manusia.
Manusia hanya diminta dilafalkan dua nama dari 99 nama
lainnya yang mewakili sikap keesaan Tuhan, Ar-Rahman-Ar-Rahim atau terjemahan
bahasa Indonesianya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya kedua sikap ini
lebih dikedepankan Tuhan daripada sifat-sifat lainnya. Tuhan adalah kekuatan
yang mengatur dunia ini dengan kasih sayang. Dan Ia mewajibkan kasih-sayang
(ar-rahmah) pada dirinya sendiri dan seluruh ciptaannya di seluruh jagad raya.
Sayangnya, manusia telah kehilangan sifat kasih-sayangnya
itu dan mengedepan sikap homo homini lupus. Kaitannya dengan Islam liberal
adalah liberalisme dalam Islam berusaha memunculkan aspek kreatif kemanusiaan
dengan sifat kasih sayang yang lebih mengedepankan humanisme dan dialog antar
umat manusia. Manusia dianjurkan untuk tasamuh, tabayyun, tawasshou bil haqq,
tawasshou bis shobr, dan tawashou bil marhamah.
Iman tidak muncul di ruang hampa. Iman tidak tumbuh dari
kepercayaan buta. Iman tumbuh dengan ilmu dan suatu kepercayaan bahwa manusia
pada hakekatnya adalah khalifatullah fil ardhi yang mengemban amanat kebebasan
dan tanggung jawab. Manusia harus mampu merumuskan dirinya sendiri di tengah
realitas keduniawian yang terus bergejolak. Bukan mengandalkan pada klaim-klaim
sepihak bahwa dogma-dogma masa lalu lebih benar dan lebih tepat. Agama perlu
disesuaikan dengan etika kemanusiaan modern tanpa melupakan doktrin dasarnya.
Aktivitas berpikir adalah aktivitas kemanusiaan yang sangat
tinggi. Dan berpikir tidak akan dilakukan tanpa adanya kebebasan. Manusia
disuruh berpikir oleh Tuhan akan hakikat segala sesuatu termasuk keberadaan
dirinya di alam raya ini, ciptaan-ciptaan Tuhan, tanda-tanda kebesarannya di
semesta. Artinya dengan memikirkan, merenungi, dan memahami tanda-tanda
kebesaran akan didapatkan hakikat peranan manusia di bumi. Kenapa ia harus
hadir dan apa tanggungjawabnya di dunia ini?
Al-Qur’an adalah kalam ilahi sekaligus merupakan salah-satu
tanda kekuasaan Tuhan itu sendiri. Amatlah naif jika Qur’an tidak berbicara
realitas kekinian. Dan itu butuh tangan-tangan orang-orang yang tercerahkan
untuk memahaminya. Qur’an adalah bahasa langit yang dibumikan. Qur’an adalah
bahasa kemanusiaan. Jika Qur’an dibiarkan membeku pada sudut ruang waktu saja
maka ia seolah-olah ia tak mampu lagi menjawab realitas sosial kemanusiaan
kontemporer. Oleh karena itu, wacana penafsiran QUr’an harus dibuka kembali
demi memajukan peradaban umat manusia.
Qur’an melampaui zamannya, penafsiran terdahulu dapat
dijadikan rujukan. Tapi Qur’an menyuruh kita berpikir akan realitas kekinian.
Qur’an membuka silang pendapat tapi bukan silang kepentingan. Artinya semangat
ijtihad harus dibuka kembali demi menciptakan peradaban Rabbani di muka bumi.
Dialog, musyarawarah, debat yang baik, harus dibuka demi menciptakan pergerakan
yang dinamis yang sanggup menjawab permasalahan kontemporer.
Islam bukan agama dogmatis, melainkan agama dinamis. Dan ini
sudah terbukti selama 14 abad perjalannya ia mampu berinteraksi dengan berbagai
zaman.
Krisis Identitas
Krisis identitas yang melanda dunia Islam sejak abad ke-19
memberikan dorongan bagi kemunculan Islam liberal. Di satu sisi kekalahan umat
Islam terhadap kolonialisme menimbulkan pertanyaan tersendiri. Mengapa
peradaban Islam yang begitu masyhur terkalahkan oleh peradaban “kafir”?
Krisis identitas ditandai dengan ketidakmampuan merumuskan
identitas diri di tengah kemajemukan masyarakat dunia. Identitas dalam krisis
artinya bagaimana posisi Islam berhadap dengan berbagai macam ideologi-ideologi
besar dunia. Dimana letak kemajuan Islam? Islam ditengarai mengalami kemunduran
pesat semenjak kebebasan berpikir dihambat. Oleh karena itu dibutuhkan
perumusan kembali nilai-nilai identitas dasar Islam yang lebih mutakhir
berhadapan dengan ideologi-ideologi besar dunia seperti materialisme, liberalisme,
kapitalisme, demokrasi sampai environmentalisme. Islam harus mampu memberikan
jawaban komprehensif terhadap berbagai krisis kemanusiaan. Agar dengan demikian
tetap menjadi rahmatan lil alamin. Wallahua’lam bishowab.
Hanvitra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar