Kamis, 30 Agustus 2012

Islam Liberal dan Krisis Identitas


Kemunculan Islam liberal masih tanda-tanya bagi kita semua. Apa makna di balik ini semua? Benarkah semua tuduhan tentang Islam liberal bahwa ia berasal dari Barat dan sebagainya? Lalu bagaimana sikap kita, umat Islam, terhadap Islam liberal? Tentu tidak mudah menjawabnya dalam tulisan yang singkat ini. Namun saya mencoba sedikit mengelaborasi bagaimana kemunculan Islam liberal dalam ranah intelektual Islam di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya pemikiran sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalism) namun ini tidak menyurutkan gerakan Islam liberal di Indonesia itu. Apa sesungguhnya Islam liberal itu?

Liberalisme memang gerakan yang berusaha mengembalikan kebebasan manusia sebagai hakikat dari penciptaannya di muka bumi.Selama ini Islam yang hidup di masyarakat cenderung mengekang potensi kreatif kemanusiaan dengan alasan dogma-dogma agama. Manusia harus tunduk kepada takdir tanpa harus memunculkan potensi kreativitasnya. Dan hal ini disebabkan oleh penafsiran yang tidak sesuai lagi pada zaman kekinian. Dalam Islam, fikih dianggap dogma yang cenderung tidak menghargai hakikat kemanusiaan. Perempuan, misalnya dalam obyek fikih hanya dijadikan sebagai makhluk kedua yang sedikit memiliki hak dibanding lelaki.

Padahal Islam, menurut Nurcholish Madjid, berusaha menjadikan manusia kembali kepada fitrah asalnya. Pada hakekatnya manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Manusia menjadikan agama sebagai jalan menuju Tuhan bukan malah menjadikan agama sebagai pengekang kebebasan manusia.

Realitas keduniawian menuntut manusia untuk berperan aktif dalam memakmurkan bumi. Ajaran agama pun menuntut demikian. Sayangnya, sekali lagi, otoritas keagamaan bersikap konservatif. Agama direduksi menjadi melulu urusan akhirat semata. Islam pada masa kemunculannya menjadi semacam kekuatan pembebas (liberating forces) terhadap berbagai macam “tuhan-tuhan” palsu yang membelenggu nilai-nilai kemanusiaan. Islam menjadi kekuatan pendobrak atas nilai-nilai kepaganan yang justru menindas kemanusiaan. Sistem sosial dimana Islam muncul memarjinalkan peranan buruh, budak, wanita, dan kelas bawah. Kelas-kelas berkuasa menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang mengendalikan manusia yang lain.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari “tuhan-tuhan” kecil itu menuju Tuhan yang sejati. Tuhan yang lebih patut dicintai dan dihormati daripada ditakuti. Tuhan adalah Realitas absolut yang menguasai alam semesta dan ia adalah tunggal. Dia tak terbagi dan tidak memiliki keturunan dan ia jauh dari sifat kemanusiaan dan kehewanan yang rendah. Ia bahkan ilahiah. Sifatnya tak sama dengan sifat manusia.

Manusia hanya diminta dilafalkan dua nama dari 99 nama lainnya yang mewakili sikap keesaan Tuhan, Ar-Rahman-Ar-Rahim atau terjemahan bahasa Indonesianya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya kedua sikap ini lebih dikedepankan Tuhan daripada sifat-sifat lainnya. Tuhan adalah kekuatan yang mengatur dunia ini dengan kasih sayang. Dan Ia mewajibkan kasih-sayang (ar-rahmah) pada dirinya sendiri dan seluruh ciptaannya di seluruh jagad raya.

Sayangnya, manusia telah kehilangan sifat kasih-sayangnya itu dan mengedepan sikap homo homini lupus. Kaitannya dengan Islam liberal adalah liberalisme dalam Islam berusaha memunculkan aspek kreatif kemanusiaan dengan sifat kasih sayang yang lebih mengedepankan humanisme dan dialog antar umat manusia. Manusia dianjurkan untuk tasamuh, tabayyun, tawasshou bil haqq, tawasshou bis shobr, dan tawashou bil marhamah.

Iman tidak muncul di ruang hampa. Iman tidak tumbuh dari kepercayaan buta. Iman tumbuh dengan ilmu dan suatu kepercayaan bahwa manusia pada hakekatnya adalah khalifatullah fil ardhi yang mengemban amanat kebebasan dan tanggung jawab. Manusia harus mampu merumuskan dirinya sendiri di tengah realitas keduniawian yang terus bergejolak. Bukan mengandalkan pada klaim-klaim sepihak bahwa dogma-dogma masa lalu lebih benar dan lebih tepat. Agama perlu disesuaikan dengan etika kemanusiaan modern tanpa melupakan doktrin dasarnya.

Aktivitas berpikir adalah aktivitas kemanusiaan yang sangat tinggi. Dan berpikir tidak akan dilakukan tanpa adanya kebebasan. Manusia disuruh berpikir oleh Tuhan akan hakikat segala sesuatu termasuk keberadaan dirinya di alam raya ini, ciptaan-ciptaan Tuhan, tanda-tanda kebesarannya di semesta. Artinya dengan memikirkan, merenungi, dan memahami tanda-tanda kebesaran akan didapatkan hakikat peranan manusia di bumi. Kenapa ia harus hadir dan apa tanggungjawabnya di dunia ini?

Al-Qur’an adalah kalam ilahi sekaligus merupakan salah-satu tanda kekuasaan Tuhan itu sendiri. Amatlah naif jika Qur’an tidak berbicara realitas kekinian. Dan itu butuh tangan-tangan orang-orang yang tercerahkan untuk memahaminya. Qur’an adalah bahasa langit yang dibumikan. Qur’an adalah bahasa kemanusiaan. Jika Qur’an dibiarkan membeku pada sudut ruang waktu saja maka ia seolah-olah ia tak mampu lagi menjawab realitas sosial kemanusiaan kontemporer. Oleh karena itu, wacana penafsiran QUr’an harus dibuka kembali demi memajukan peradaban umat manusia.

Qur’an melampaui zamannya, penafsiran terdahulu dapat dijadikan rujukan. Tapi Qur’an menyuruh kita berpikir akan realitas kekinian. Qur’an membuka silang pendapat tapi bukan silang kepentingan. Artinya semangat ijtihad harus dibuka kembali demi menciptakan peradaban Rabbani di muka bumi. Dialog, musyarawarah, debat yang baik, harus dibuka demi menciptakan pergerakan yang dinamis yang sanggup menjawab permasalahan kontemporer.

Islam bukan agama dogmatis, melainkan agama dinamis. Dan ini sudah terbukti selama 14 abad perjalannya ia mampu berinteraksi dengan berbagai zaman.

Krisis Identitas

Krisis identitas yang melanda dunia Islam sejak abad ke-19 memberikan dorongan bagi kemunculan Islam liberal. Di satu sisi kekalahan umat Islam terhadap kolonialisme menimbulkan pertanyaan tersendiri. Mengapa peradaban Islam yang begitu masyhur terkalahkan oleh peradaban “kafir”?

Krisis identitas ditandai dengan ketidakmampuan merumuskan identitas diri di tengah kemajemukan masyarakat dunia. Identitas dalam krisis artinya bagaimana posisi Islam berhadap dengan berbagai macam ideologi-ideologi besar dunia. Dimana letak kemajuan Islam? Islam ditengarai mengalami kemunduran pesat semenjak kebebasan berpikir dihambat. Oleh karena itu dibutuhkan perumusan kembali nilai-nilai identitas dasar Islam yang lebih mutakhir berhadapan dengan ideologi-ideologi besar dunia seperti materialisme, liberalisme, kapitalisme, demokrasi sampai environmentalisme. Islam harus mampu memberikan jawaban komprehensif terhadap berbagai krisis kemanusiaan. Agar dengan demikian tetap menjadi rahmatan lil alamin. Wallahua’lam bishowab.
Hanvitra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar